Rabu, 24 Oktober 2012

Indahnya Persahabatan Kita

           Di setiap perpisahan pasti ada pertemuan. Kata-kata ini mungkin terasa janggal. Tapi tanpa disadari hal ini yang sering terjadi pada diriku.
           Di setiap jenjang pendidikan, Alhamdulillah aku memiliki sahabat  seiring sejalan yang memberikan berbagai warna dalam hidup. Namun, setiap kali kelulusan tiba, tali persahabatan itu merenggang. Setiap kali terjadi perenggangan, Allah dengan kuasa-Nya selalu mempertemukan aku dengan sahabat-sahabat baru yang tak kalah baiknya.
            Setelah perpisahan SMA waktu itu, sahabat-sahabatku merantau ke berbagai kota di Nusantara untuk melanjutkan pendidikan mereka. Awalnya aku merasa kehilangan dan berharap mereka kembali lagi, kembali seperti yang dulu, kembali memberikan perhatian kepadaku. Hal ini agak sulit, dengan kenyataan mereka berada jauh di mata dan memiliki kesibukan masing-masing.
            Allah tak membiarkanku merasa kesepian tanpa sahabat. Allah menakdirkanku bertemu dengan sahabat baru di bangku perkuliahan. Persahabatan yang awalnya berenam, berdelapan, berduabelas, hingga sekarang, bertingabelas. Mungkin ini jumlah yang banyak untuk dikatakan sebagai sahabat. Tapi itulah kenyataannya. Aku memiliki dua belas sahabat. Dua belas sahabat yang memiliki pemiikiran masing-masing di kepalanya.
           Beragam karakter yang ada membuat persahabatan ini terasa indah. Terkadang kita tertawa, bercengkrama, berselisih, dan bahkan menangis bersama. Selalu saja ada bahan yang ditertawakan, walaupun yang jadi bahan tertawaan itu diri kita sendiri. Setiap hari ulang tahun dari salah seorang di antara kita tiba, kita selalu merayakannya bersama, walaupun sederhana. Ketika salah satu di antara kita goyah, kita berusaha menguatkannya. Ketika salah satu di antara kita rapuh, selalu ada tangan lembut yang menenangkan. Ketika kita tak bersama, selalu ada kerinduan yang menyelimuti, walaupun hanya berpisah sebentar saja.
             Ini semua terasa indah. Indahnya persahabatan kita, membuat aku selalu merindukannya. Terima kasih Allah atas nikmat-Mu yang indah ini :)

Sabtu, 22 September 2012

Anis, Aku Mencarinya

           Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan itu yang aku rasakan, aku menyesal. Aku menyesal tidak meminta alamat ataupun sekedar nomor telepon yang bisa aku hubungi bila aku merindukan Anis.
          Anis, teman lamaku yang sedang aku cari. Anis, anak perempuan hitam manis yang selalu bersamaku ketika Jambore Nasional tahun 2006 berlangsung. Aku dikenalkan oleh Pembina Pramuka ku kepada Anis sebelum kegiatan Jambore Nasional benar-benar dimulai. Saat itu aku berkunjung ke tenda kontingennya yang terletak tak berapa jauh dari tenda kontingenku, kontingen Pekanbaru. Anis adalah salah satu anggota kontingen  yang berasal dari kabupaten Kampar. 
          Aku dan Anis ditakdirkan Allah memiliki kegiatan yang sama di Jambore itu. Mulai dari acara sosialisasi sanitasi sampai berwisata ke Cibodas-Jawa Barat, kami selalu bersama-sama. Duduk berdampingan di dalam bus, hingga pulang bersama saat maghrib tiba ke tenda masing-masing. Kadang langkah kakiku begitu cepat, hingga ia tertinggal di belakangku.
          Aku masih teringat ketika maghrib itu kami baru saja tiba di Bumi Perkemahan Kiara Payung-Jati Nangor setelah satu malam menginap di Cibodas. Aku berjalan terburu-buru karna takut terlambat kembali ke tenda, dan ia terengah-engah mengikuti langkahku. Aku seolah tak mau menunggunya, aku terasa egois. Ia terlalu baik menjadi teman seorang aku yang egois. Aku merasa jahat. Saking jahatnya aku, aku tak memintanya untuk mengisi kolom 'Teman Baruku' yang ada di dalam Buku Panduan Jambore Nasional saat itu. Padahal kami selalu bersama, namun aku tak terpikir sedikitpun.
           Ah, betapa menyesalnya aku. Ketika sekarang aku beranjak dewasa baru aku merasa kehilangan dirinya. Terlambat. Aku tak tau harus mencarinya ke mana. Setelah ku coba bertanya kepada teman-temanku yang berasal dari Kampar, browsing di internet, tak jua aku temukan ia.
          Anis, aku merindukanmu. Semoga suatu saat nanti Allah mempertemukanku lagi denganmu. Amiin .

Senin, 30 Juli 2012

Selamat Jalan Teman Kecilku

           Namanya Kaza. Aku bertemu dengannya delapan belas tahun yang lalu, ketika kami berusia dua tahun. Itu pertemuan yang pertama. Saat itu ia datang ke Pekanbaru bersama ibunya dan menginap di rumahku selama sepuluh hari. Selama ia di rumahku, aku dan Kaza kecil selalu bermain bersama dan bersenda gurau, bahkan ketika malam hari tiba. Kami masih saja bercanda tawa walaupun Mama ku telah mematikan lampu. Ya, begitulah aku dan Kaza kecil menghabiskan waktu. Setelah sepuluh hari berlalu, Kaza dan ibunya meninggalkan rumahku. Butuh waktu lama sejak saat itu untuk melihatnya lagi. Aku tak pernah melihatnya lagi sampai aku pulang ke kampungku dua tahun yang lalu, tepatnya  Januari 2010. Aku hanya melihatnya dari kejauhan, aku tak mengenali ia lagi dan begitu pula sebaliknya. Bahkan, aku harus bertanya dulu kepada temanku "Kaza, yang mana?". Saat itu berlalu sangat cepat. Pertemuan itu hanya sebentar dan tidak membekaskan wajahnya di benakku. Aku tak tahu bagaimana wujud Kaza dewasa, aku tak pernah berkomunikasi dengannya lagi hingga saat ini, hingga kabar kepergiannya aku dengar beberapa hari yang lalu. Ya, Kaza teman kecilku itu telah pergi menghadap penciptanya pada tanggal 25 Juli 2012 yang lalu. Aku sedih mendengar kabar kepergiannya. Ada rasa kehilangan, wlaaupun aku hanya mengenalnya dalam waktu sepuluh hari, namun ntah mengapa rasanya aku begitu dekat dengannya. 

Selamat jalan Kaza, selamat jalan teman kecilku. Semoga engkau diterima di tempat terbaik di sisi Allah.
Amiin.

Sabtu, 07 Juli 2012

Kisah Taubatnya Malik bin Dinar


Malik bin Dinar menuturkan :

Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan mabuk-mabukkan, maksiat, berbuat zalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli manusia. Kulakukan segala kezaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. 

Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Pernah suatu ketika Fathimah melihatku memegang khamr (arak), maka dia mendekat kepadaku dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat itu umurnya belum genap 2 tahun. Seakan-akan Allah SWT yang membuatnya melakukan hal tersebut. 

Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.

Maka aku pun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Ku belum memiliki sifat sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang menguatkanku di atas cobaan musibah.  Kembalilah aku menjadi buruk dari sebelumnya. Setan pun mempermainkanku, hingga datang suatu hari , setan berkata kepadaku : "Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya." Maka aku bertekad akan mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum, dan minum. Maka aku terlihat diriku telah terlempar di alam mimpi.

Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat. Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumi pun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil namaku:
"Mari menghadap Al-Jabbar !" Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ular besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar ke arahku dengan membuka mulutnya. Aku pun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Aku pun berkata: "Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!". Ia menjawab : " Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah ke arah ini mudah-mudahan engkau selamat !".

Aku pun berlarih ke arah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada di hadapanku. Aku pun berkata : " Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?". Aku pun kembali berlari dengan cepat sementara ular itu semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata, "Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.". Maka ia menangis karena iba dengan keadaanku seraya berkata : "Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatu pun, akan tetapi larilah ke arah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!".

Aku pun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak: "Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah Ayahmu !".

Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia putriku. Aku pun berbahagia mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka dia pun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.

Dia berkata kepadaku: "Wahai ayah, "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah." (QS. Al-Hadid:16).

Maka kukatakan :" Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.". Dia berkata:"Itu adalah amal keburukanm, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu.Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamata? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalehmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu yang untuk membantu kondisimu. Seandainya saja engkau tidak memiliki seorang anak, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.".

Ketika terbangun dari mimpinya, Malik bin Dinar pun terngiang dengan kata-kata anaknya di dalam mimpi. Dan semenjak saat itu ia pun berpikir untuk bertaubat dan tidak akan mengulangi lagi keburukan-keburukan yang ia lakukan di masa dulu.

Dikutip dari buku: Mencari Hati yang Hilang. Karya : Tajuddin Nur, Lc dan Muklisin Al-Bonai

Senin, 14 Mei 2012

Ulang Tahun di Kondangan Orang

           Di balik semua kegembiraan yang diberikan sahabat-sahabatku di kampus, ada terbesit sedikit kekecewaan di hati ketika beberapa sahabatku mungkin lupa dengan hari ulang tahunku. Mungkin memang agak sedikit kekanak-kanakan, tapi aku memang begitu. Aku mau mereka mengingatku walaupun jarak kami sudah jauh. Aku tunggu sms dari sahabat-sahabatku sampai tengah malam pergantian waktu 12 Mei 2012, tapi tak ada juga sms yang kunjung datang. Aku kecewa, namun tak sebegitu kecewanya, karena aku sudah dewasa.
           Keesokan harinya, tanggal 12 Mei 2012. Aku menanyai salah seorang sahabatku apakah dia lupa dengan tanggal ulang tahunku. Ia mengatakan bahwa ia tidak lupa ulang tahunku, hanya saja semua alat komunikasinya hilang entah dimana. Alasan itu dapat aku terima. Sahabatku yang lain mengatakan bahwa ia ingin mengucapkan selamat ulang tahun tepat di akhir tanggal 11 Mei, namun ternyata ia terlupa. Dan alasan itu juga aku terima karna aku percaya pada sahabat-sahabatku.
           Hari itu aku pikir akan berlalu begitu saja, namun tak begitu kenyataannya. Sore itu aku pergi memenuhi undangan pesta pernikahan Oom salah seorang sahabatku. Sahabatku itu sangat ngotot menyuruh aku untuk datang karena sahabat-sahabatku (di MTsN) yang lain sudah menungguku di sana. Tak ada kecurigaan apa pun dalam pikiranku. Aku hanya datang seolah biasa.
           Namun sesampainya di sana, di depan sahabat-sahabatku.Ntah mengapa tiba-tiba ada rasa kecewa yang muncul, rasa kecewa yang ingin ku tumpahkan lewat air mata. Apalagi ketika seorang sahabatku itu membicarakan tentang ulang tahunku. Untung saja air mata itu tetap mempertahankan keadaan diamnya.  Tanpa ku sadari, salah seorang sahabatku pergi untuk beberapa saat. Dan setelah beberapa lama ia pergi, ia datang bersama sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilin berangka 20. Aku terkejut, senang, sekaligus malu. Aku malu, karena itu bukan acara aku, tapi acara kondangan orang,eh malah aku yang merayakan ulang tahun di sana. Ulang tahun di kondangan orang. Ini benar-benar pengalaman baru yang mengejutkan sekaligus menyenangkan.
 
           Aku sangat senang. Terima kasih Sahabat. Love You :*

Genap 20 Tahun= Jadi Adonan Kue

           Jum'at sore yang lalu, tepatnya tanggal 11 Mei 2012, Mamaku hanya bisa tertawa saat melihat anaknya berlumuran tepung+telur+coklat + air ketika sampai di rumah. Ya, hari itu aku jadi adonan kue, tepat di ulang tahunku yang ke-20 . Hari itu aku dikerjai habis-habisan oleh sahabat-sahabatku di Gunj Community. Memang sudah menjadi kebiasaan, bagi siapa saja anggota gunj yang berulang tahun akan diberi kue dan diberi
adonan kue ekstra. 
          Adonan kue itu terdiri dari tepung, telur, coklat, air lumpur. Yap, itu bukan adonan kue untuk memasak kue sesungguhnya, tapi itu adonan kue untuk mengerjai orang yang berulang tahun. Hal ini sesungguhnya bukan hanya menjadi kebiasaan kami, tapi sudah menjadi budaya di kalangan anak muda di Pekanbaru. Aku bisa mengatakan seperti ini karena aku juga merasakan lemparan yang sama ketika SD dulu.
           Kembali lagi ke cerita awal. Hari itu setelah UTS Listrik Magnet yang bikin keringat bercucuran, sahabat-sahabatku mengajakku untuk merayakan ulang tahunku di depan HIMA PEFSI. Kami duduk di depan HIMA, serambi membuka kotak kue ulang tahun yang akan saya potong. Tetapi kue itu belum bisa langsung kami potong karena harus menunggu 2 personil lagi karena mereka masih di jalan. Selagi menunggu, tiba-tiba salah seorang sahabatku berkata, "kenapa kuenya nggak kita tutup aja dulu?". Ia berkata sambil membuka kotak kue yang ia maksud. Tak sengaja aku melihat benda apa yang berada di bawah kotak itu. Ternyata benda-benda itu adalah Seperangkat adonan kue yang akan digunakan untuk mengerjai aku. 
           Ya sudahlah, ternyata sudah terbongkar semua rencana mereka. Dengan senang hati aku langsung mengganti baju ke kamar mandi. Aku sudah mempersiapkan semuanya dari rumah, karena aku sudah tau kebiasaan mereka. Mereka tak ada rasa kasihan kalau soal melempar-lempar telur. 
           Setelah aku mengganti baju dan 2 orang sahabatku lagi datang, aku memotong kue dengan pisau 'cutter'  yang agak sesuatu. Setelah aku potong kue, aku langsung ditarik, dan diceplok telur, disiram tepung, diguyur air  tanah, dan dicolek coklat. Alhasil, aku benar-benar menjadi objek penderita di hari itu. Aku benar-benar bau dan kotor. Namun aku senang pada hari itu. Ini merupakan kenangan indah yang tak akan aku lupakan.

Thanks GUNJ . I LOVE YOU :*

Senin, 07 Mei 2012

Gelombang


Sebelum kita memahami gelombang, kita semua harus tahu dulu apa itu getaran.
Getaran adalah gerak bolak-balik menuju suatu titik keseimbangan pada suatu lintasan tertentu. Contohnya getaran yang terjadi pada pegas seperti di bawah ini.




Lalu, apa hubungannya getaran dan gelombang?
Gelombang adalah getaran yang merambat atau gangguan yang merambat.  Suatu benda bisa bergetar apabila diganggu. Seperti pegas, pegas akan bergerak naik turun (bergetar) apabila mendapat gangguan yang dilakukan oleh tangan kita dengan menarik pegas itu ke bawah.
Gelombang yang biasa kita temui di kehidupan sehari-hari adalah gelombang bunyi yang mengakibatkan kita dapat mendengar suara. Gelombang bunyi bisa merambat melalui padat, cair, dan gas.
Menurut bentuk usikan yang diberikanpada medium, gelombang terbagi 2, yaitu:
  1. Gelombang pulsa (denyut)          : hanya dilakukan satu usikan
  2. Gelombang mekanik                      : dilakukan berkali-kali getaran/usikan.

Menurut arah getar gelombang, gelombang juga terbagi 2:
  1.  Gelombang Transversal

         Gelombang yang arah getar nya tegak lurus dengan arah rambatnya
     2. Gelombang Longitudinal

         Gelombang yang arah getar mediumnya sejajar dengan arah rambatnya.